
Kidung Sang Perajut Asa
| ? | . |
|---|---|
| Nama | Mahadi Tejakusuma |
| Tanggal Lahir | 13 Januari 1990 |
| Jenis Kelamin | Laki-laki |
| Umur | 36 |
| Agama | Islam |
| Status | Menikah |
| Pekerjaan | Dosen |
Sekilas Tentangnya
MAHADI TEJAKUSUMA bahkan tidak tahu siapa yang menyemat nama itu padanya—atau mungkin, di titik ini sudah tak peduli lagi. Yang ia tahu, nama itu memiliki arti yang bagus. Sudah cukup.
Lelaki yang kerap dipanggil Teja ataupun Adi oleh istrinya itu kini tinggal bersama istri tercintanya di sudut kota Malang. Ialah seorang dosen, yang mana jadi sumber penghidupan sehari-harinya.
Lembar Kisah: Di Balik Tiap Senyum yang Tersungging
Sejak pertama kali ia diberi ingatan, Teja sudah tidak tahu siapa yang menghadirkannya di dunia ini.
Teja telah tinggal di panti asuhan sejak belia, membuatnya tidak terlalu ambil pusing akan identitas kedua orang tuanya, sebab ia tak memiliki ingatan sedikitpun tentang mereka. Teja tumbuh bersisihan dengan anak-anak panti asuhan lainnya, yang lambat laun ia saksikan kepergiannya—entah sebab akhirnya mereka menemukan sebuah keluarga yang menjadikan temannya bagian dari mereka, atau sebab lainnya yang akan terlampau banyak apabila disebutkan.
Teja sendiri adalah seorang anak yang taat beragama dan berkelakuan baik; ia percaya, jodoh-nya sudah tertulis di balik langit—termasuk perihal keluarga yang sudi menjadikannya bagian dari mereka.
Namun, sudah dua kali Teja diadopsi, dua kali pula ia dikembalikan ke panti asuhan karena satu dan lain hal; yang sayangnya, Teja sendiri enggan mengingat tentang itu. Lagi-lagi, Teja tak ambil pusing; katanya, berarti kedua keluarga itu tidak berjodoh dengannya. Sesederhana itu.
Setelah beberapa tahun berlalu, tepatnya saat Teja berumur 17 tahun, akhirnya Allah menjawab dambanya yang ada di ujung hati; sebuah keluarga yang mau menjadikannya bagian dari mereka. Awalnya ia skeptis sebab kedua pengalaman terdahulunya, tapi ia tetap memberanikan diri 'tuk mengambil apa yang ia damba.
Beruntungnya, keluarga itu memang jodoh Teja; keluarga yang hangat, dengan satu anak lainnya yang ialah seorang anak perempuan yang lebih muda lima tahun darinya, yang bisa disebutnya sebagai seorang adik angkat.
Di saat ia berpikir kepingan hidupnya telah sempurna, maka Semesta mengingatkannya bahwa kesempurnaan itu bukanlah sesuatu yang absolut . . .
Kepingan Kisah: Benang Merah yang Kusut
Jika orang Asia Timur punya kepercayaan tentang dua orang yang ditakdirkan bersama terhubung oleh sebuah bena merah, Teja pun tidak sepenuhnya menentang.
Ia sendiri percaya jika alur setiap orang telah tertulis di balik langit—yang disebut dengan takdir. Termasuk jodoh.
Teja yakin bahwa Tuhan telah menjodohkan ia dengan adik angkatnya, menakdirkan keduanya menjadi saudara meski tanpa terikat oleh hubungan darah. Pada mulanya, semua berjalan mulus dan indah, hingga waktu mulai menggerogoti kesempurnaannya.
Seiring waktu bergulir, jarak antara keduanya juga semakin besar; entah jarak dalam hitungan kilometer, atau jarak hati ke hati yang dulu bahkan tak perlu disuarakan sebab keduanya merasakan ikatan yang kuat.
Bukan sekali dua kali Teja mendengar isak tertahan dari kamar adiknya, serta lagu spesifik yang diputar terus menerus. Ia telah berulang kali mencoba mengintip apa yang ada di balik tatap sendu oleh manik adiknya, namun sang dara hanya berkata bahwa ia tidak apa-apa.
Lambat laun, ketakutan merayap dalam dirinya; Kenapa, kenapa adikku tidak mau berbagi duka denganku? Meskipun hampir genap dua dekade kami menyebut diri sebagai "kakak dan adik"?
Apakah ... ternyata ikatan yang kami miliki tak pernah sekokoh yang kuduga?
Darah lebih kental daripada air, katanya, dan sedari awal pun, kami tak memiliki hal itu.
Tak bisa dipungkiri, sikap tertutup adiknya yang menolak 'tuk berbagi duka dengannya menjadi pemantik atas ketakutannya. Bagaimana jika adiknya selama ini memang tidak pernah benar-benar mempercayainya? bergaung di kepalanya setiap malam.
Namun, Teja menolak 'tuk tenggelam dalam ketakutan itu. Ia telah memantapkan hati 'tuk melakukan apapun demi meluruskan benang merah di antara mereka yang tengah kusut itu—sebab ia yakin, karena Teja ngeyel, ia bersikeras menjadi sosok kakak dari adiknya itu hingga akhir hayatnya.
Beberapa Trivia
- Teja adalah seorang dosen Jurusan Biologi, tepatnya mengajar mata kuliah Fisiologi Hewan.
- Dulunya ia bercita-cita menjadi dokter hewan, tapi ia mundur sebab sadar diri, katanya. Maka dari itu, ia balas dendam untuk menjadi dosen Fisiologi Hewan.
- Teja dan istrinya menganut sistem bagi tugas; keduanya bisa memasak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya, maka mereka melakukannya secara bergantian.
- Teja adalah orang yang santai, karena sedari belia sudah terbiasa digebukin kehidupan, katanya. Katanya, "Bawa santai aja, nggak sih?".
Orang-orang di Hidupnya

DIAJENG BESTARI
Adik perempuan angkat dari Teja yang berusia lima tahun lebih muda darinya. Sedari kecil, Ajeng adalah sosok anak perempuan yang kuat dan berani, serta ceria dan serba ingin tahu. Meski, lambat laun keceriaan itu memudar seiring bertambahnya usia—Ajeng menjadi cenderung agak pendiam dan terkadang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Meski begitu, bagi Teja, ia masih seorang adik perempuan yang senantiasa ingin ia lindungi. Ajeng kini merantau di Bandung dan bekerja sebagai pustakawan di perpustakaan daerah Bandung sejak ia menyelesaikan studinya pada jurusan Ilmu Perpustakaan beberapa tahun silam.

KINANTI SEKARDAYU
Istri dari Teja yang berusia tiga tahun lebih muda, kerap disapa Kinan, tapi Teja memanggilnya dengan Sekar—katanya karena ia secantik bunga (sekar). Mereka telah menikah empat tahun lalu dan belum dikaruniai anak, maka dari itu mereka masih hidup berdua hingga saat ini.
Mereka pertama kali bertemu saat Teja menjadi asisten dosen (asdos) dan ikut mengajar Kinan. Kinan, yang kebetulan agak lemah pada mata kuliah yang diajarkan Teja, membuat gadis muda ambisius itu jadi sering meminta tutor tambahan pada Teja yang senang-senang saja karena bisa sering bertemu dengannya.
Seiring berjalannya waktu, keduanya semakin dekat dan akhirnya berpacaran, lalu memutuskan menikah setelah keduanya menyelesaikan studi magisternya. Kinan kini bekerja sebagai pegawai di Dinas Lingkungan Hidup Malang.
Catatan Penulis
Karakter Mahadi Tejakusuma ialah karakter fiksi yang menggunakan klaim wajah Mortefi dari gim Wuthering Waves. Karakter ini terafiliasi dengan agensi tertutup S_ratStudio. Segala alur cerita dan karakteristik Teja hanyalah fiksi semata dan berasal dari pemikiran penulis serta berpedoman dari hal-hal yang telah ada di dunia nyata dalam penulisannya.